Persija Jakarta

•December 3, 2009 • Leave a Comment

Pada jaman Hindia Belanda, nama awal Persija adalah VIJ (Voetbalbond Indonesische Jacatra). Pasca-Republik Indonesia kembali ke bentuk negara kesatuan, VIJ berganti nama menjadi Persija (Persatuan sepak bola Indonesia Jakarta). Pada saat itu, NIVU (Nederlandsch Indisch Voetbal Unie) sebagai organisasi tandingan PSSI masih ada. Di sisi lain, VBO (Voetbalbond Batavia en Omstreken) sebagai bond (perserikatan) tandingan Persija juga masih ada. Terlepas dari takdir atau bukan, seiring dengan berdaulatnya negara Indonesia, NIVU mau tidak mau harus bubar. Mungkin juga karena secara sosial politik sudah tidak kondusif (mendukung). Suasana tersebut akhirnya merembet ke anggotanya, antara lain VBO. Pada pertengahan tahun 1951, VBO mengadakan pertemuan untuk membubarkan diri (likuidasi) dan menganjurkan dirinya untuk bergabung dengan Persija. Dalam perkembangannya, VBO bergabung ke Persija. Dalam turnamen segitiga persahabatan, gabungan pemain bangsa Indonesia yang tergabung dalam Persija “baru” itu berhadapan dengan Belanda dan Tionghoa. Inilah hasilnya: Persija (Indonesia) vs Belanda 3-3 (29 Juni 1951), Belanda vs Tionghoa 4-3 (30 Juni 1951), dan Persija (Indonesia) vs Tionghoa 3-2 (1 Juli 1951). Semua pertandingan berlangsung di lapangan BVC Merdeka Selatan, Jakarta.
2. Prestasi
Tahun 1931, Juara Perserikatan, sebagai VIJ Jakarta
Tahun 1933, Juara Perserikatan, sebagai VIJ Jakarta
Tahun 1934, Juara Perserikatan, sebagai VIJ Jakarta
Tahun 1938, Juara Perserikatan, sebagai VIJ Jakarta
Tahun 1975, Juara Perserikatan, bersama dengan PSMS Medan
Tahun 1990, Peringkat Ke-10 Perserikatan
Tahun 1994, Peringkat Ke-12 Divisi Utama Wilayah Barat
Tahun 1995, Peringkat Ke-13 Divisi Utama Wilayah Barat
Tahun 1996, Peringkat 10 Wilayah Barat
Tahun 1998, Semifinalis
Tahun 1999, Semifinalis
Tahun 2001, Juara Liga Bank Mandiri
Tahun 2002, 8 Besar Liga Bank Mandiri
Tahun 2003, Peringkat 7 Liga Bank Mandiri
Tahun 2004, Peringkat 3 Liga Bank Mandiri
Tahun 2005, Runner-Up Liga Indonesia
Tahun 2005, Runner-Up Copa Indonesia
Tahun 2006, Liga Indonesia 8 Besar
Tahun 2006, Copa Indonesia Juara 3
Tahun 2007, Copa Indonesia Juara 3

Itulah Sejarah Singkat tentang Persija Jakarta

Arema Malang

•December 3, 2009 • Leave a Comment

Nama Arema adalah legenda Malang. Adalah Kidung Harsawijaya yang pertama kali mencatat nama tersebut, yaitu kisah tentang Patih Kebo Arema di kala Singosari diperintah Raja Kertanegara. Prestasi Kebo Arema gilang gemilang. Ia mematahkan pemberontakan Kelana Bhayangkara seperti ditulis dalam Kidung Panji Wijayakrama hingga seluruh pemberontak hancur seperti daun dimakan ulat. Demikian pula pemberontakan Cayaraja seperti ditulis kitab Negarakretagama.

Kebo Arema pula yang menjadi penyangga politik ekspansif Kertanegara. Bersama Mahisa Anengah, Kebo Arema menaklukkan Kerajaan Pamalayu yang berpusat di Jambi. Kemudian bisa menguasai Selat Malaka. Sejarah heroik Kebo Arema memang tenggelam. Buku-buku sejarah hanya mencatat Kertanegara sebagai raja terbesar Singosari, yang pusat pemerintahannya dekat Kota Malang.

Sampai akhirnya pada dekade 1980-an muncul kembali nama Arema. Tidak tahu persis, apakah nama itu menapak tilas dari kebesaran Kebo Arema. Yang pasti, Arema merupakan penunjuk sebuah komunitas asal Malang. Arema adalah akronim dari Arek Malang.

Arema kemudian menjelma mejadi semacam “subkultur” dengan identitas, simbol dan karakter bagi masyarakat Malang. Diyakini, Arek Malang membangun reputasi dan eksistensinya di antaranya melalui musik rock dan olahraga. Selain tinju, sepakbola adalah olahraga yang menjadi jalan bagi arek malang menunjukkan reputasinya. Sehingga kelahiran tim sepakbola Arema adalah sebuah keniscayaan.

Kesebelasan Arema (Arema Football Club/Persatuan Sepakbola Arema nama resminya) lahir pada tanggal 11 Agustus 1987, dengan semangat mengembangkan persepakbolaan di Malang. Pada masa itu, tim asal Malang lainnya Persema bagai sebuah magnet bagi arek Malang. Stadion Gajayana –home base klub pemerintah itu– selalu disesaki penonton. Di mana Arema waktu itu ? Yang pasti, ia belum mengejawantah sebagai sebuah komunitas sepakbola. Ia masih jadi sebuah “utopia”.

More Continue reading ‘Arema Malang’

Klub Di Liga Indonesia

•December 3, 2009 • Leave a Comment

Bagaimana mengubah iklim sepak bola nasional menjadi kondusif dan atraktif? Jawabnya, visi dan misi PSSI harus diubah sesuai dengan iklim sepak bola internasional. Dengan demikian, struktur kepengurusan PSSI harus dibuat seramping mungkin dan diisi oleh orang- orang profesional di bidangnya. PSSI dan seluruh jajarannya hingga level terbawah, termasuk afiliasinya (klub dan perserikatan) harus dijauhkan dari orang- orang yang berkecimpung dalam partai politik.

Dengan terlibatnya orang- orang yang berkualitas dan profesional di bidangnya, PSSI secara langsung dapat menciptakan iklim yang baik bagi perkembangan sepak bola nasional.

Aturan yang jelas dan dijalankan secara konsekuen serta sistem kompetisi yang baik, teratur, dan berjenjang adalah satu- satunya jalan bagi sepak bola nasional menuju pentas dunia.

Kita perlu menyambut baik dibentuknya Badan Liga Indonesia (BLI), sebuah badan otonom yang akan menjalankan roda kompetisi mendatang. Kita berharap eksistensi BLI bisa membawa perubahan, meski lingkungan luasnya belum ada tanda-tanda perubahan.

Tugas pertama yang harus dituntaskan oleh BLI adalah sistem kompetisi yang paling layak bagi negara seluas Indonesia. Adakah sistem kompetisi saat ini yang meniadakan degradasi bagi dua atau tiga tim terbawah akan dilanjutkan? Ataukah menata kembali sistem kompetisi Liga Indonesia, minimal sama, seperti yang dilakukan negara-negara maju di bidang sepak bola?

Setelah jelas format kompetisi yang akan dijalankan, adalah tugas BLI menyosialisasikan kepada publik dalam artian luas, termasuk berbagai perangkat aturan yang bila dilanggar akan memperoleh hukuman tegas.

Sebagai badan otonom, sungguh positif bila BLI juga menyusun aturan bagi terbukanya peluang investasi asing dalam klub-klub maupun perserikatan di Indonesia. Hal ini sangat menarik, di satu sisi BLI ikut menyukseskan program pemerintah dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi investasi.

Juga, dampak positif lainnya yang diperoleh adalah klub-klub dan perserikatan yang kepemilikannya sudah dikuasai oleh investor pastinya akan dikelola sesuai dengan prinsip-prinsip good corporate governance yang menjunjung tinggi profesionalitas dan profit oriented.

Dengan tata kelola yang baik, klub-klub maupun perserikatan berkepentingan akan prestasi tinggi, pasokan pemain berkualitas, pelatih nomor wahid, dan iklim kompetisi sehat.

Syarat utama untuk masuknya investor untuk berinvestasi di klub dan perserikatan adalah konsistensi dan kepastian pelaksanaan kompetisi. Karena hanya dengan kepastian, semuanya bisa terukur dan terhitung secara akurat. Selain itu, perlu kiranya insan sepak bola Indonesia meminta kepada pemerintah insentif fiskal, dengan meniadakan pajak tontonan, juga kemudahan atau penghapusan biaya perizinan pertandingan.

Apabila klub dan perserikatan sudah diprivatisasi dengan masuknya investor lokal maupun asing, kita tidak akan lagi menemukan kompetisi Liga Indonesia tertunda karena adanya pilkada ini itu. Dan kecil kemungkinan terjadinya tindakan anarkis oleh pendukung sebuah klub maupun perserikatan, mengingat bila hal itu terjadi, tuan rumah akan kehilangan potensi pemasukan karena adanya aturan yang tegas soal itu.

Maka, kita boleh bermimpi pada suatu saat sepak bola Indonesia menoreh prestasi di pentas dunia. Kalau seperti sekarang, saya melarang pembaca untuk bermimpi, meski sedetik pun!

Lanjut Continue reading ‘Klub Di Liga Indonesia’

The Jak Mania

•November 3, 2009 • Leave a Comment

The Jakmania berdiri sejak Ligina IV, tepatnya 19 Desember 1997. Markas dan sekretariat The Jakmania berada di Stadion Menteng. Setiap Selasa dan Jumat merupakan rutinitas The Jakmania baik itu pengurus maupun anggota untuk melakukan kegiatan kumpul bersama membahas perkembangan The Jakmania serta laporan-laporan dari setiap bidang kepengurusan.

Tidak lupa juga melakukan pendaftaran bagi anggota baru dalam rutinitas tersebut. Ide ini muncul dari Diza Rasyid Ali, manajer Persija waktu itu. Ide ini mendapat dukungan penuh dari Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Sebagai pembina Persija, memang Bang Yos (sapaan akrabnya)sangat menyukai sepakbola. Ia ingin sekali membangkitkan kembali sepakbola Jakarta yang telah lama hilang baik itu tim maupun pendukung atau suporter.

Pada awalnya, anggota The Jakmania hanya sekitar 100 orang, dengan pengurus sebanyak 40 orang. Ketika dibentuk, dipilihlah figur yang dikenal di mata masyarakat. Gugun Gondrong merupakan sosok paling ideal disaat itu. Meski dari kalangan selebritis, Gugun tidak ingin diberlakukan berlebihan. Ia ingin merasa sama dengan yang lain.

Pengurus The Jakmania waktu itu akhirnya membuat lambang sebuah tangan dengan jari berbentuk huruf J. Ide ini berasal dari Edi Supatmo, yang waktu itu menjadi Humas Persija. Hingga sekarang, lambang itu masih dipertahankan dan selalu diperagakan sebagai simbol jati diri Jakmania.

Seiring dengan habisnya masa pengurusan, Gugun digantikan Ir. T. Ferry Indrasjarief. Ia lebih akrab disapa Bung Ferry. Masa tugas Bung Ferry adalah periode 1999-2001 dan kembali dipercaya untuk memimpin The Jakmania periode 2001-2003, 2003-2005.

Lelaki tinggi, tampan dan sarjana lulusan ITI Serpong inilah yang memimpin The Jakmania hingga 3 periode. Dibawah kepemimpinan Bung Ferry yang juga pernah menjadi anggota suporter Commandos Pelita Jaya, The Jakmania terus menggeliat. Organisasi The Jakmania ditata dengan matang. Maklum, Bung Ferry memang dibesarkan oleh kegiatan organisasi. Awalnya, sangat sulit mengajak warga Jakarta untuk mau bergabung.

Beruntung, pengurus menemukan momentum jitu. Saat tim nasional Indonesia berlaga pada Pra Piala Asia, mereka menyebarkan formulir di luar stadion. Dengan makin banyaknya anggota yang mendaftar sekitar 7200 anggota, dibentuklah Kordinator Wilayah (Korwil).

Dan sampai pendaftaran terakhir saat ini terdapat lebih dari 30.000 anggota dari 50 Korwil. Setelah diadakan Pemilihan Umum Raya 2005, untuk memilih Ketua Umum yang baru, akhirnya terpilihlah Ketua Umum Baru periode 2005-2007 yaitu Sdr. Hanandiyo Ismayani atau yang bisa dipanggil dengan Bung Danang. Continue reading ‘The Jak Mania’

Aremania

•November 3, 2009 • Leave a Comment

MENGENANG suatu siang, jauh di belakang sana, pada hari-hari awal masa Kampanye Pemilu 1992 di sekitar alun-alun bunderan Malang. Iring-iringan simpatisan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan seragam serba hijau berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk gambar bintang. Ada nada marah di wajah mereka, juga dendam. Pemilu 1992 memang masih sekedar sandiwara, tak perduli dukungan sebesar apapun sudah jelas Golkar menang mutlak. Dan pawai kampanye jadi salah satu ajang pelampiasan kekesalan, seperti terlihat dari iringan massa PPP. Di pinggir, orang-orang menyambut riang, seraya mengangkat tangan tinggi-tinggi. Hanya sekian menit kemudian mendadak wajah mereka berubah pucat, tatkala dari arah berlawanan muncul pula arak-arakan Golkar, berwarna kuning dan lambang pohon beringin; musuh bebuyutan!

“Wah, ruwet iki pasti tawuran,” celutuk mereka yang di pinggir jalan sambil beranjak menjauh dari kemungkinan bentrokan. Semakin mendekat arak-arakan, aroma amuk pun terasa menyebar. Kedua gerombolan pasang kuda-kuda. Besi, pentungan, batu, rantai, sudah ditangan. Hujatan, cacian dan provokasi mulai keluar. “Golkar keat, dancuk!” PPP bedes! Kerek!”

Seperti diduga, batu-batu melayang. Bagaimanapun dalam situasi chaostik itu, masih ada yang berupaya tetap dingin –turun dari truk dan melerai massa masing-masing. “Hop, hop! (berhenti,berhenti!) Dancuk, keat kabeh! (Dancuk, semua tai!) Iki podo Ngalam, podo Arema, kok tarung! (Sesama warga Kota Malang, sesama Arema, kok berkelahi!) Ayo salaman!” Suasana amok mencair drastis. ‘Arema’ rupanya bertuah, punya magis, seperti imam yang harus dipatuhi. ‘Arema’ menyebar senyum, menggali kekerabatan dan kedua rombongan melanjutkan perjalanan, seolah tidak ada lagi tarung kepentingan politik. Arema?


*** Lanjut Continue reading ‘Aremania’

Suporter Indonesia

•November 3, 2009 • Leave a Comment

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa mungkin hanya Indonesia saja yang memiliki jumlah supporter sepakbola terbesar didunia. Dengan jumlah penduduk 210 juta jiwa, banyak potensi sumber daya supporter yang dapat diserap. Ditambah dengan adanya budaya yang sudah mengakar di masyarakat bahwa hanya sepakbola-lah olahraga paling populer di Indonesia terlepas dari semakin buruknya prestasi Timnas kita.

Bacalagi Continue reading ‘Suporter Indonesia’

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.